TUNTUTAN PERANGKAT DESA DI AKOMODIR DPR

Setelah melalui beberapa proses dan tahapan yang panjang, akhirnya tuntutan perangkat desa dalam hal peningkatan kesejahteraan mendapat tanggapan dari DPR, siang kemarin selasa 12 Juli 2011 perwakilan perangkat desa kurang lebih 100 orang diterima oleh Wakil Ketua DPR Bapak Taufik Kurniawan beliau menyatakan sudah seharusnya perangkat desa di naikan kesejahteraannya melalui pangangkatan menjadi PNS apakah dengan cara MORATORIUM pokokknya undang-undang tentang pemerintah desa akan menjadi focus bahasan kami, dan sebenarnya Pemerintah mempunyai dana Rp. 1,7 Trilyun yang bisa digunakan untuk pengangkatan Perangkat Desa menjadi PNS.
Tentunya ini adalah suatu berita yang sangat menggembirakan bagi para perangkat desa seluruh Indonesia, karena apa yang di perjuangkan mereka mendapat tanggapan yang positif baik dari Excekutif maupun Legislatif. Walaupun begitu kita tetap masih harus menunggu apakah ucapan Wakil Ketua DPR tadi sudah merupakan representasi DPR atau baru pendapat pribadi wakil ketua saja. Harapan kita semoga bukan hanya isapan jempol belaka karena memang secara real di lapangan perangkat desa itu dilihat dari segi kesejahteraan dan fasilitasnya sangat memprihatinkan. Mereka melaksanakan pekerjaan dalam melayani masyarakat sebagai ujung tombak pelayanan karena langsung bersentuhan dengan masyarakat, dalam hal memberikan pelayanan kadang di luar jam kerja pun masih memberikan pelayanan kepada masyarakat, belum lagi ada pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya pekerjaan pembantuan baik dari Pemda Kabupaten, Pemda Provinsi maupun pusat yang harus dikerjakan. Jadi secara bidang pekerjaan sama dengan para PNS pada umumnya sementara dari segi penghasilan sangat jauh berbeda. Ini sangat saya rasakan karena saya seorang perangkat desa yang mengandalkan gaji hanya dari bantua stimulant Pemda yang jumlahnya kalau dibandingkan dengan Gaji UMR masih sangat jauh, penghasilan dari urunan masyarakat sangat tidak bisa diharapkan mengingat dengan situsi kondisi social masyarakat kita sekarang ini yang sudah mulai tergeser oleh modernisasi sehingga nilai-nilai kearifan local yang menjadi cirri khas desa perlahan-lahan sudah mulai luntur, dimana dalam hal urunan dan pelaksanaan gotong royong tidak seantusias masyarakat pada waktu-waktu dulu, di mumukan di mesjid oleh RT/RW untuk melaksanakan gotong royong maka masyarakat cepat berkumpul, sementara saat ini walaupun masih ada tapi responnya sudah berkurang. Peningkatan pendapatan dari Pendapatan Asli Desa (PADes) juga sama sulit direalisasikan. Sehingga kalau Pemerintah dan DPR tidak arif dalam merespon tuntutan perangkat desa sangat tidak bijaksana, coba kita lihat pada bulan ini para PNS mendapatkan GAJI KE 13 (tiga belas) sementara perangkat desa dengan baju seragam yang sama, jam kerja yang sama kadang lebih, objek pelayanan sama gigit jari melihat euphoria PNS mencairkan gaji mereka yang ke 13.
Oleh karena itu saya sangat bersyukur sekali apabila Bapak-bapak Anggota Dewan yang terhormat bisa mengakomodir tuntutan perangkat desa untuk menjadi PNS, karena kinerja mereka sudah teruji dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan bias dibuktikan ke lapangan.
Sekali lagi semoga janji DPR akan membahas dan mengesahkan UU tentang desa yang didalamnya ada ketentuan perangkat desa jadi PNS ditepati.

Comments

TUNTUTAN PERANGKAT DESA DI AKOMODIR DPR

Setelah melalui beberapa proses dan tahapan yang panjang, akhirnya tuntutan perangkat desa dalam hal peningkatan kesejahteraan mendapat tanggapan dari DPR, siang kemarin selasa 12 Juli 2011 perwakilan perangkat desa kurang lebih 100 orang diterima oleh Wakil Ketua DPR Bapak Taufik Kurniawan beliau menyatakan sudah seharusnya perangkat desa di naikan kesejahteraannya melalui pangangkatan menjadi PNS apakah dengan cara MORATORIUM pokokknya undang-undang tentang pemerintah desa akan menjadi focus bahasan kami, dan sebenarnya Pemerintah mempunyai dana Rp. 1,7 Trilyun yang bisa digunakan untuk pengangkatan Perangkat Desa menjadi PNS.
Tentunya ini adalah suatu berita yang sangat menggembirakan bagi para perangkat desa seluruh Indonesia, karena apa yang di perjuangkan mereka mendapat tanggapan yang positif baik dari Excekutif maupun Legislatif. Walaupun begitu kita tetap masih harus menunggu apakah ucapan Wakil Ketua DPR tadi sudah merupakan representasi DPR atau baru pendapat pribadi wakil ketua saja. Harapan kita semoga bukan hanya isapan jempol belaka karena memang secara real di lapangan perangkat desa itu dilihat dari segi kesejahteraan dan fasilitasnya sangat memprihatinkan. Mereka melaksanakan pekerjaan dalam melayani masyarakat sebagai ujung tombak pelayanan karena langsung bersentuhan dengan masyarakat, dalam hal memberikan pelayanan kadang di luar jam kerja pun masih memberikan pelayanan kepada masyarakat, belum lagi ada pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya pekerjaan pembantuan baik dari Pemda Kabupaten, Pemda Provinsi maupun pusat yang harus dikerjakan. Jadi secara bidang pekerjaan sama dengan para PNS pada umumnya sementara dari segi penghasilan sangat jauh berbeda. Ini sangat saya rasakan karena saya seorang perangkat desa yang mengandalkan gaji hanya dari bantua stimulant Pemda yang jumlahnya kalau dibandingkan dengan Gaji UMR masih sangat jauh, penghasilan dari urunan masyarakat sangat tidak bisa diharapkan mengingat dengan situsi kondisi social masyarakat kita sekarang ini yang sudah mulai tergeser oleh modernisasi sehingga nilai-nilai kearifan local yang menjadi cirri khas desa perlahan-lahan sudah mulai luntur, dimana dalam hal urunan dan pelaksanaan gotong royong tidak seantusias masyarakat pada waktu-waktu dulu, di mumukan di mesjid oleh RT/RW untuk melaksanakan gotong royong maka masyarakat cepat berkumpul, sementara saat ini walaupun masih ada tapi responnya sudah berkurang. Peningkatan pendapatan dari Pendapatan Asli Desa (PADes) juga sama sulit direalisasikan. Sehingga kalau Pemerintah dan DPR tidak arif dalam merespon tuntutan perangkat desa sangat tidak bijaksana, coba kita lihat pada bulan ini para PNS mendapatkan GAJI KE 13 (tiga belas) sementara perangkat desa dengan baju seragam yang sama, jam kerja yang sama kadang lebih, objek pelayanan sama gigit jari melihat euphoria PNS mencairkan gaji mereka yang ke 13.
Oleh karena itu saya sangat bersyukur sekali apabila Bapak-bapak Anggota Dewan yang terhormat bisa mengakomodir tuntutan perangkat desa untuk menjadi PNS, karena kinerja mereka sudah teruji dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan bias dibuktikan ke lapangan.
Sekali lagi semoga janji DPR akan membahas dan mengesahkan UU tentang desa yang didalamnya ada ketentuan perangkat desa jadi PNS ditepati.

Comments

Sinetron Kita….

Kemewahan, Konsumerisme, perebutan harta dan tahta, tema-tema orang kaya itulah sinetron kita. suatu tema atau cerita yang sangat bertolak belakang dengan kondisi riil masyarakat kita saat ini.

Padahal…. Potensi alam, Pulau, dan Kebudayaan kita sebagian telah di klaim oleh negara tetangga yang konon katanya serumpun itu.

Kita berteriak…..

Kita Menghujat…… mendemo…… ganyang malaysia….

Tapi kita sendiri di dalam tidak melakukan apa-apa, Potensi Alam, Pulau dan Budaya Kita itu Ibarat seorang GADIS NAN CANTIK JELITA yang sangat di idam-idamkan  oleh SI PEMUDA, namun sayang nasib si  gadis itu dipinang orang lain tidak boleh sementara dia sendiri tidak mau menikahinya.

Saatnya berbenah…..

Mulai dari Hal kecil….. mulai dari diri sendiri…. mulai saat ini…. (Aa Gym )

Kita gali dan manfaatkan potensi yang kita miliki, cerminkan INDONESIA itu terutama dalam Sinetron yang sangat besar sekali dampaknya terhadap masyarakat. Kita gali budaya-budaya daerah dan kolaborasikan dalam tema cerita Sinetron kita itu sehingga sekali nonton kita bisa lihat Indonesianya baik itu dari Ceritanya, Pemainnya, logat bahasanya, cara pakaiannya dan lain sebagainya terlalu banyak kalau disebutkan disini, Apa hanya yang berwajah Indo saja yang laku dijual toh FILM-FILM Amerika sana disetiap Filmnya menampilkan orang-orang kulit hitam tapi kalau yang dijualnya adalah cerita yang bagus berqualitas  ternyata bisa dijual.

Tampilkanlah Potensi Daerah saya kira saudara-saudara kita dari Indonesia Timur banyak yang berbakat.

Indahnya Indonesiaku….

Comments (3)

Lagi….. lagi….. Malaysia…

Bertambah satu lagi deretan Budaya kita diambil orang, setelah beberapa budaya yang lainnya dengan tanpa malu diakui negri jiran itu kini Tari Pendet dari Bali seterusnya APA LAGI..? tulisan ini bukan bermaksud mempropokasi pembaca tapi hanya ingin mengajak berpikir sejenak, merenung secara jernih… kenapa dan mengapa hal ini bisa terjadi…! mari kita INSTROSPEKSI DIRI jangan hanya menyalahkan orang lain sementara kita sendiri tidak berbuat apa-apa terhadap Budaya kita bagaimana cara untuk memelihara dan melestarikan Budaya kita itu yang telah tumbuh dan berkembang hasil olah pikir para leluhur kita di Bumi Pertiwi ini.
Kita jangan hanya Protes, Demo dan menyalahkan ( walaupun sebenarnya itu tidak salah ) tapi kita harus lebih jernih bertindak dan masuk pada tataran praktek mari kita pakai Budaya kita…
Kenapa India bisa maju karena budaya mereka dipakai, lihat Film-film India.
Cina bisa maju karena mereka tidak melupakan Budaya mereka lihat Film-filam China.
sementara kita…?
mulai saat ini terapkan dan pakai budaya kita itu. beri contoh oleh Pemerintah, Swasta, Masyarakat, Public figur dll. sebagai contoh yang mungkin bisa dilaksanakan sebagai berikut :
1. Pakaian Adat
Pakaian Adat jangan hanya ramai dipakai pada Hari Kartini saja, apa tidak bisa satu hari dalam seminggu para pejabat mulai dari pusat sampai daerah memakai pakaian adat masing-masing daerahnya. Para Public Figur, Penyiar Berita, MC dll apa tidak bisa satu hari dalam seminggu memakai pakaian adat daerah kita dari masing-masing daerah secara bergiliran.
2. Musik Daerah
Sebaiknya selingan-selingan musik disela-sela acara atau pengantar dalam suatu acara di Televisi menggunakan musik tradisional atau musik daerah yang telah di arannger secara modern jangan menggunakan musik barat yang sebagian besar pendengarnya pun tidak mengerti.
3. Taria-tarian
Sering kita lihat acara-acara di Televisi apa itu acara Ulang Tahun suatu perusahaan, Launching Produk, Penganugerahan musik dan lain sebagainya jarang menampilkan Tari-tarian Daerah, kenapa tidak mulai sekarang Tari-tarian daerah tersebut ditampilkan pada acara-acara tersebut daripada menampilkan tari-tarian yang katanya tari kreasi modern tapi lebih menampilkan pornografi dan tidak mengakar pada budaya kita.
karena itu sudah saatnya kita bertindak…
Sudah saatnya kita memulai…
dengan kita pakai Budaya kita pasti orang lain pun akan berpikir ulang untuk mengklaimnya… pasti…
Ayo… jangan biarkan Budaya kita di klaim orang lain pakailah budaya kita

Comments (1)

JAMPANA DAN GAPURA BAMBU

  • Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan,…

Begitulah bunyi Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa betapa pentingnya kemerdekaan bagi suatu bangsa, betapa susah payahnya memperjuangkan kemerdekaan.

Dulu…..
betapa bangganya menyambut peringatan HUT RI, betapa bergeloranya semangat Patriotisme anak bangsa ini kalau tiba bulan Agustus. semua warga mulai dari masyarakat bawah sampai masyarakat lapisan atas menyambutnya dengan penuh rasa suka cita, penuh rasa bangga, menyambutnya dengan darah-darah nasionalisme yang bergerlora.
waktu itu saya sangat merasakan…
sebelum hari H kegiatan meriah… KACA-KACA (gapura) dibuatkan ditiap-tiap gang atau jalan masuk kampung dari bambu yang diruncingkan berjejer lima melambangkan bahwa para pejuang kita melawan penjajah menggunakan bambu runcung, dan lima adalah Pancasila. Bendera merah putih dan umbul-umbul berkibar di sisi kiri dan kanannya, tak ketinggalan patung pejuang kemerdekaan terbuat dari rangka bambu dan bekas kantong semen menenteng bambu runcing dan senapan… sebelum hari H itu.. warga bersatu padu dengan semangatnya membuat berbagai pernak-pernik agustusan, membuat meriam bambu, kapal perang, dan yang paling penting dan khas adalah pembuatan JAMPANA ( bangunan menyerupai rumah-rumahan adat didalamnya tersimpan aneka macam makanan ) untuk di gotong keesokan harinya, dan yang paling menarik dari JAMPANA itu adalah apabila Upacara usai maka warga saling berebut isinya untuk dimakan, tapi bukan berebut antri BLT lho… semua aman.
tapi kini…..
upacara terasa hambar, upacara hanya ritual seremonial, upacara seolah kehilangan makna dan jiwa. karena tergeser oleh budaya individualisme, konsumerisme, dan modernisasi yang salah arah, modernisasi yang menelan bulat-bulat budaya barat, modernisasi yang tidak berakar pada nilai-nilai sosial budaya yang ada dan berkembang di masyarakat Indonesia.

Comments (1)

Halo dunia!

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!

Comments (2)